Selasa, 14 Maret 2017


Cerita siti nurbaya

Siti Nurbaya, antara Syamsul Bahri dan Datuk Maringgih Adalah Syamsul Bahri, seorang lelaki berwajah tampan dan berasal dari keturunan orang terpandang. Bapaknya adalah seorang Penghulu yang terpandang, yakni Sutan Mahmud. Ia jatuh cinta kepada seorang gadis jelita, Siti Nurbaya, yang berambut panjang bak mayang terurai serta santun budinya, anak dari Baginda Sulaiman. Jalinan cinta Siti dan Syamsul direstui oleh kedua orang tua yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Sutan Mahmud ayah Syamsul Bahri adalah mamak Siti Nurbaya. Setelah menamatkan sekolah tingkat atas, Syamsul Bahri melanjutkan sekolah calon dokter di pulau Jawa. Tidak  terperikan betapa sedih hati Syamsul Bahri yang harus meninggalkan kekasih pujaan hati. Air mata Siti Nurbaya berlinang membasahi pipi saat melepas Syamsul di pelabuhan Teluk Bayur, dan berharap cepat kembali bertemu. Saling berkirim surat cinta adalah pengobat rindu mereka berdua saat hidup terpisah. Tahun berlalu musim berganti, musibah datang mendera keluarga Siti Nurbaya, usaha dagang ayahnya mengalami kebangkrutan, hingga jatuh miskin dan Baginda Sulaiman akhirnya jatuh sakit. Beliau meminjam uang kepada seorang rentenir yang berbadan kurus dan beristri banyak, bernama Datuk Maringgih. Hutang Baginda Sulaiman semakin bertumpuk dan berbunga pada Datuk Maringgih. Suatu hari Datuk Maringgih pergi ke rumah Baginda Sulaiman yang sedang sakit untuk menagih piutangnya. Disanalah Datuk Maringgih terpesona melihat kecantikan Siti Nurbaya. Datuk Maringgih memaksa Baginda Sulaiman agar menikahkan Siti Nurbaya dengan dirinya sebagai istri muda kalau tak sanggup membayar hutang. Siti Nurbaya menolak, karena sudah punya kekasih. Tapi Siti Nurbaya tak berdaya dan akhirnya dipersunting oleh Datuk Maringgih yang berumur sebaya dengan ayahnya. Kabar tersebut sampai ke telinga Syamsul Bahri, hatinya sangat sedih dan mencoba bunuh diri. Suatu hari Syamsul Bahri pulang ke Padang dan bertemu dengan Siti Nurbaya. Datuk Maringgih naik pitam dan meyebarkan fitnah yang menyudutkan Syamsul Bahri. Akhirnya ia di usir oleh ayahnya Sutan Mahmud. Syamsul Bahri kembali ke Jakarta , diam-diam ia menyamar jadi tentara kompeni Belanda, dengan nama samaran Letnan Mas. Datuk Maringgih menjadi benci kepada Siti Nurbaya, puncaknya ia melampiaskan dendam dengan memberikan lemang beracun melalui pesuruh untuk diberikan kepada Siti Nurbaya. Tragis, Siti Nurbaya menemui ajalnya setelah memakan lemang beracun kiriman Datuk Maringgih. Pada saat tragedi Balesting dimana saudagar-saudagar pribumi tidak mau membayar upeti di bawah pimpinan Datuk Mariggih, dikirimlah Letnan Mas oleh Kompeni ke Padang untuk menumpas para pembangkang Balesting. Terjadilah peperangan satu lawan satu antara Letnan Mas dengan Datuk Maringgih. Akhir cerita Letnan Mas yang tak lain adalah Syamsul Bahri tewas di ujung pedang, bersamaan dengan Datuk Maringgih juga roboh terkena tembakan Letnan Mas. Andai Siti Nurbaya Hidup di Zaman Sekarang Mengapa Siti Nurbaya mau menikah dengan Datuk Maringgih? Bukankah ia bisa melarikan diri, toh harga pesawat ada yang cukup murah. Ia bisa memesan jauh hari agar harga semakin murah. Bukankah Siti Nurbaya bisa telepon atau SMS kepada Syamsul Bahri yang masih sekolah di Jawa, janjian atau membuat kesepakatan tertentu. Kalau ingin mendapat dukungan publik, share saja kasus itu melalui jejaring sosial seperti facebook, twitter, atau melalui blog, web dan milis. Syamsul harusnya bisa datang ke Padang lebih awal setelah mendapat SMS dari Siti Nurbaya bahwa kondisinya terancam. Syamsul bisa mengajak pengacara yang terpercaya, apalagi yang mau gratis, untuk menyelesaikan kasus Baginda Sulaiman yang terlilit hutang kepada Datuk Maringgih. Laporkan saja Datuk Maringgih ke Kepolisian agar ditangkap karena ia orang jahat. Setelah itu, segera nikahi Siti Nurbaya, dengan urusan resmi ke KUA. Tidak perlu nikah siri. Setelah menyelesaikan urusan di Padang, segera ajak Siti Nurbaya ke Jawa, untuk meneruskan studi lanjut. Ambil program spesialis, atau beralih ke jalur politik, agar kelak bisa kembali ke Ranah Minang untuk menjadi Bupati atau Gubernur. Maka berbahagialah hidup Syamsul Bahri dan Siti Nurbaya di Ranah Minang. Mereka dikaruniai anak-anak yang lucu dan baik. Ah, jangan berandai-andai. Kenyataannya, takdir telah menuliskan Siti Nurbaya hidup di zamannya, untuk menjadi legenda kepedihan hati, karena kasih tak sampai. Jangan lagi ada orang sejahat Datuk Maringgih. Jangan ada lagi orang tua yang tega memaksa anaknya untuk menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya. Jangan lagi ada warga yang kesulitan ekonomi sehingga terlilit hutang ke rentenir berwatak jahat. Siti Nurbaya adalah pengingat kepada kita semua. Biarkan saja ia hidup di zamannya. Bahkan ternyata tetap hidup di zaman kita, sebagai legenda yang membawa pesan-pesan mulia.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pakcah/siti-nurbaya-kasih-memang-tak-mesti-sampai_55122163a33311e656ba7e59
Sejarah dan Asal Usul Pembangunan Berdirinya Monas [ Monumen Nasional ].
Monas [ Monumen Nasional ] – Menomen ini terletak persis di Pusat Kota Jakarta. Tugu Monas merupakan tugu kebanggaan bangsa Indonesia, selain itu monas juga menjadi salah satu pusat tempat wisata dan pusat pendidikan yang menarik bagi warga Indonesa baik yang dijakarta maupun di luar Jakarta. Tujuan pembangunan tugu monas adalah untuk mengenang dan mengabadikan kebesaran perjuangan Bangsa Indonesia yang dikenal dengan Revolusi 17 Agustus 1945, dan juga sebagai wahana untuk membangkitkan semangat patriotisme generasi sekarang dan akan datang.


Monas mulai dibangun pada bulan Agustus 1959. Keseluruhan bangunan Monas dirancang oleh para arsitek Indonesia yaitu Soedarsono, Frederich Silaban dan Ir. Rooseno. Pada tanggal 17 Agustus 1961, Monas diresmikan oleh Presiden Soekarno. Dan mulai dibuka untuk umum sejak tanggal 12 Juli 1975.

Tugu Monas punya ciri khas tersendiri, sebab arsitektur dan dimensinya melambangkan kias kekhususan Indonesia. Bentuk yang paling menonjol adalah tugu yang menjulang tinggi dan pelataran cawan yang luas mendatar. Di atas tugu terdapat api menyala seakan tak kunjung padam, melambangkan keteladanan semangat bangsa Indonesia yang tidak pernah surut berjuang sepanjang masa.

 http://satupedang.blogspot.com/2015/08/sejarah-pembangunan-monas-monumen.html

Bentuk dan tata letak Monas yang sangat menarik memungkinkan pengunjung dapat menikmati pemandangan indah dan sejuk yang memesona, berupa taman di mana terdapat pohon dari berbagai provinsi di Indonesia. Kolam air mancur tepat di lorong pintu masuk membuat taman menjadi lebih sejuk, ditambah dengan pesona air mancur bergoyang.

Di dekat pintu masuk menuju pelataran Monas itu juga nampak megah berdiri patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kuda. Patung yang terbuat dari perunggu seberat 8 ton itu dikerjakan oleh pemahat Italia, Prof Coberlato sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario di Indonesia.

Gagasan awal pembangunan Monas muncul setelah sembilan tahun kemerdekaan diproklamirkan. Beberapa hari setelah peringatah HUT ke-9 RI, dibentuk Panitia Tugu Nasional yang bertugas mengusahakan berdirinya Tugu Monas. Panitia ini dipimpin Sarwoko Martokusumo, S Suhud selaku penulis, Sumali Prawirosudirdjo selaku bendahara dan dibantu oleh empat orang anggota masing-masing Supeno, K K Wiloto, E F Wenas, dan Sudiro.

http://satupedang.blogspot.com/Panitia yang dibentuk itu bertugas mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pembangunan Monas yang akan didirikan di tengah lapangan Medan Merdeka, Jakarta . Termasuk mengumpulkan biaya pembangunannya yang harus dikumpulkan dari swadaya masyarakat sendiri.

Setelah itu, dibentuk panitia pembangunan Monas yang dinamakan ”Tim Yuri” diketuai langsung Presiden RI Ir Soekarno. Melalui tim ini, sayembara diselenggarakan dua kali. Sayembara pertama digelar pada 17 Februari 1955, dan sayembara kedua digelar 10 Mei 1960 dengan harapan dapat menghasilkan karya budaya yang setinggi-tingginya dan menggambarkan kalbu serta melambangkan keluhuran budaya Indonesia.

Dengan sayembara itu, diharapkan bentuk tugu yang dibangun benar-benar bisa menunjukan kepribadian bangsa Indonesia bertiga dimensi, tidak rata, tugu yang menjulang tinggi ke langit, dibuat dari beton dan besi serta batu pualam yang tahan gempa, tahan kritikan jaman sedikitnya seribu tahun serta dapat menghasilkan karya budaya yang menimbulkan semangat kepahlawanan.

Oleh Tim Yuri, pesan harapan itu dijadikan sebagai kriteria penilaian yang kemudian dirinci menjadi lima kriteria meliputi harus memenuhi ketentuan apa yang dinamakan Nasional, menggambarkan dinamika dan berisi kepribadian Indonesia serta mencerminkan cita-cita bangsa, melambangkan dan menggambarkan “api yang berkobar” di dalam dada bangsa Indonesia, menggambarkan hal yang sebenarnya bergerak meski tersusun dari benda mati, dan tugu harus dibangun dari benda-benda yang tidak cepat berubah dan tahan berabad-abad.

Namun, dua kali sayembara digelar, tidak ada rancangan yang memenuhi seluruh kriteria yang ditetapkan panitia. Akhirnya, ketua Tim Yuri menunjuk beberapa arsitek ternama yaitu Soedarsono dan Ir F Silaban untuk menggambar rencana tugu Monas. Keduanya arsitek itu sepakat membuat gambarnya sendiri-sendiri yang selanjutnya diajukan ke ketua Tim Yuri (Presiden Soekarno), dan ketua memilih gambar yang dibuat Soedarsono.

Dalam rancangannya, Soedarsono mengemukakan landasan pemikiran yang mengakomodasi keinginan panitia. Landasan pemikiran itu meliputi kriteria Nasional. Soedarsono mengambil beberapa unsur saat Proklamasi Kemerdekaan RI yang mewujudkan revolusi nasional sedapat mungkin menerapkannya pada dimensi arsitekturnya yaitu angka 17, 8, dan 45 sebagai angka keramat Hari Proklamasi.

 http://satupedang.blogspot.com/

Bentuk tugu yang menjulang tinggi mengandung falsafah “Lingga dan Yoni” yang menyerupai “Alu”sebagai “Lingga” dan bentuk wadah (cawan-red) berupa ruangan menyerupai “Lumpang” sebagai “Yoni”. Alu dan Lumpang adalah dua alat penting yang dimiliki setiap keluarga di Indonesia khususnya rakyat pedesaan. Lingga dan Yoni adalah simbol dari jaman dahulu yang menggambarkan kehidupan abadi, adalah unsur positif (lingga) dan unsur negatif (yoni) seperti adanya siang dan malam, laki-laki dan perempuan, baik dan buruk, merupakan keabadian dunia.

Bentuk seluruh garis-garis arsitektur tugu ini mewujudkan garis-garis yang bergerak tidak monoton merata, naik melengkung, melompat, merata lagi, dan naik menjulang tinggi, akhirnya menggelombang di atas bentuk lidah api yang menyala. Badan tugu menjulang tinggi dengan lidah api di puncaknya melambangkan dan menggambarkan semangat yang berkobar dan tak kunjung padam di dalam dada bangsa Indonesia.

Pembangunan tugu Monas dilaksanakan melalui tiga tahapan yaitu tahap pertama (1961-1965), kedua (1966-1968), dan tahap ketiga (1969-1976). Pada tahap pertama pelaksanaan pekerjaannya dibawah pengawasan Panitia Monumen Nasional dan biaya yang digunakan bersumber dari sumbangan masyarakat.
Tahap kedua pekerjaannya masih dilakukan dibawah pengawasan panitia Monas. Hanya saja, biaya pembangunannya bersumber dari Anggaran Pemerintah Pusat c.q Sekertariat Negara RI. Pada tahap kedua ini, pembangunan mengalami kelesuan, karena keterbatasan biaya.

Tahap ketiga pelaksanaan pekerjaan berada dibawah pengawasan Panitia Pembina Tugu Nasional, dan biaya yang digunakan bersumber dari Pemerintah Pusat c.q Direktorat Jenderal Anggaran melalui Repelita dengan menggunakan Daftar Isian Proyek (DIP).

Ruang museum sejarah yang terletak tiga meter dibawah permukaan halaman tugu memiliki ukuran 80X80 meter. Dinding serta lantai di ruang itu pun semuanya dilapisi batu marmer. Di dalam ruangan itu, pengunjung disajikan dengan 51 jendela peragaan (diorama) yang mengabadikan sejarah sejak jaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia, perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia hingga masa pembangunan di jaman orde baru. Di ruangan ini pula, pengunjung juga dapat mendengar rekaman suara Bung Karno saat membacakan Proklamasi.

 http://satupedang.blogspot.com/

Ruang Kemerdekaan
Sementara di ruang kemerdekaan yang berbentuk amphitheater terletak di dalam cawan tugu, terdapat empat atribut kemerdekaan meliputi peta kepulauan Negara RI , Lambang Negara Bhinneka Tunggal Ika, dan pintu Gapura yang berisi naskah Proklamasi Kemerdekaan.

Di pelataran puncak tugu yang terletak pada ketinggian 115 meter dari halaman tugu memiliki ukuran 11X11 meter, pengunjung dapat mencapai pelataran itu dengan menggunakan elevator (lift-red) tunggal yang berkapasitas sekitar 11 orang.

Di pelataran yang mampu menampung sekitar 50 orang itu juga disediakan empat teropong di setiap sudut, dimana pengunjung bisa melihat pemandangan Kota Jakarta dari ketinggian 132 meter dari halaman tugu Monas.

Lidah api yang terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton dengan tinggi 14 meter dan berdiameter 6 meter, terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Seluruh lidah api dilapisi lempengan emas seberat 35 kilogram, dan kemudian pada HUT ke-50 RI, emas yang melapisi lidah api itu ditambah menjadi 50 kilogram.


Sumber : http://satupedang.blogspot.com/2015/08/sejarah-pembangunan-monas-monumen.html#ixzz4bJN1HsGQ

10 Kucing Terloucu, Terunyu, Terkece, di DUNIAAA

Saya adalah salah satu penggembar kucing karena kucing adalah salah satu makhluk terlucu dan paling menyenangkan di dunia. Kucing juga merupakan obat stres yang dapat membuat hati kita menjadi tenang saat bermain dengan mereka. Sosok binatang kucing yang lucu dan menggemaskan membuat hampir semua orang menyukainya kecuali orang – orang yang memiliki bakat alergi terhadap bulu binatang tentunya.

Nah….Berikut ini adalah 10 kumpulan foto-foto kucing lucu, imut dan mengemaskan yang saya koleksi:
 Foto Kucing 01
 Foto Kucing 02
 Foto Kucing 03
 Foto Kucing 04
 Foto Kucing 05
Foto Kucing 06
Foto Kucing 07
  Foto Kucing 08
 Foto Kucing 09

PENGERTIAN DAN PENYEBAB DEHIDRASI

Penyebab dehidrasi adalah kekurangan zat Natrium dan air dalam tubuh. Hal ini bisa disebabkan karena : Diare berat, muntah-muntah, berkeringat yang berlebihan dan tidak ada asupan sama sekali, paparan panas yang lama, dan bisa juga disebabkan karena pengaruh diet yang tidak sesuai. Pada bayi dan anak-anak resiko terjadinya dehidrasi lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa.

Tanda dan Gejala Dehidrasi

Gejala Dehidrasi ditunjukkan berdasarkan tingkat dehidrasi tersebut terjadi namun secara umum gejala yang muncul yaitu :

kondisi tubuh lemas, kehausan yang berlebihan, mual, jantung berdebar kencang ditandai dengan tekanan darah yang tidak normal, kencing sedikit dan berwarna keruh, tenggorokan kering, kekenyalan kulit berubah, dan mungkin adanya penurunan kesadaran. Itulah beberapa tanda-tanda umum dehidrasi selain itu juga adanya penurunan berat badan.

Tingkat-tingkat Dehidrasi

Penurunan Berat Badan (BB) menjadi indikator penting untuk mengetahui tingkat dehidrasi yang terjadi. Dehidrasi dibagi tiga tingkat yaitu dehidrasi ringan, sedang dan berat.
A. Dehidrasi ringan
Penurunan cairan tubuh Kurang 5 % BB. Gejala umum yang sering ditunjukkan yaitu haus, bibir kering, dan lemas
B. Dehidrasi sedang
Penurunan cairan tubuh antara 5-10 % BB. Pada tingkat dehidrasi sedang penderita terlihat haus, buang air kecil mulai berkurang. Mata terlihat agak cekung, kekenyalan kulit menurun, dan bibir kering.
C. Dehidrasi berat
penurunan cairan tubuh antara 10-15 % BB. Gejala nya Selain gejala klinis yang terlihat pada dehidrasi ringan dan sedang, pada keadaan ini juga terlihat napas yang cepat dan dalam, kekenayalan kulit sangat menurun, kondisi tubuh sangat lemas, kesadaran menurun, nadi cepat.

Penanganan dan terapi Dehidrasi

Terapi klinik dehidrasi bertujuan untuk :

1. Mengganti kehilangan cairan yang telah terjadi.

2. Mengganti kehilangan cairan yang sedang berlangsung.

3. Mencegah kehilangan cairan lanjutan.

Salah satu faktor penting dalam terapi klinis dehidrasi yaitu menentukan tingkat dehidrasi penderita. Dehidrasi ringan biasanya cukup dengan mengkomsumsi banyak cairan ditambah dengan pemberian Cairan Rehidrasi oral (CRO) atau ORALIT. CRO diberikan sebanyak15-20 ml/kgBB/jam. Untuk mengganti cairan yang hilang. Makanan tidak perlu dibatasi karena pemberian makanan akan mempercepat penyembuhan

Sedangkan pada dehidrasi sedang dan dehidrasi berat penderita harus segera dibawa ke Rumah Sakit untuk mendapat cairan rehidrasi melalui infus(intravena). Selain itu untuk memudahkan pengobatan terhadap penyebab dehidrasi seperti diare, muntah-muntah dan penyebab lainnya. Keadaan penderita harus sesering mungkin di evaluasi. Sekian pembahasan tentangpengertian dehidrasi, gejala, penyebab dan cara penanganan dehidrasisemoga bermanfaat.

Cara mengobati dehidrasi

Oralit

Oralit adalah salah satu obat yang digunakan untuk mengatasi dehidrasi. Ketika Anda mengalami dehidrasi, tubuh Anda akan kehilangan gula, garam, dan cairan. Meminum oralit bisa mengembalikan keseimbangan kadar gula, garam, dan cairan di dalam tubuh. Ada banyak produk rehidrasi yang bisa dibeli secara bebas. Konsultasikan kepada dokter atau apoteker untuk mengetahui lebih lanjut tentang oralit.

Mengobati dehidrasi pada bayi

Dokter bisa memberikan saran pengobatan yang tepat jika bayi Anda mengalami dehidrasi. Segera konsultasikan ke dokter jika Anda mulai khawatir bayi Anda mengalami dehidrasi.
Lanjutkan memberikan ASI pada bayi ketika mereka mengalami diare, muntah-muntah, atau demam. Jika Anda memberikan susu formula pada bayi, gantikan dengan susu formula yang bebas laktosa hingga diarenya benar-benar berhenti. Laktosa sulit dicerna jika bayi mengalami diare, bahkan cenderung memperburuk kondisi diarenya. Memberikan oralit  secara teratur disertai dengan makanan mereka (ASI, susu formula dicampur air) akan menggantikan cairan, garam, dan gula yang hilang.

Mengobati dehidrasi pada anak-anak

Untuk penanganan dehidrasi pada anak-anak, pemberian air berlebihan justru bisa membuat kadar mineral dalam tubuh lebih menurun dan akibatnya memperburuk kondisi tubuhnya. Maka, dianjurkan untuk memberikan larutan oralit pada anak-anak.
Anda bisa menggunakan sendok untuk menyuapi cairan kepada anak-anak yang sering mengalami muntah-muntah dan mengalami diare.

Mengobati dehidrasi pada atlet

Untuk dehidrasi yang terjadi akibat olahraga, minuman berenergi yang mengandung elektrolit dan karbohidrat atau gula adalah pilihan terbaik. Hindari segala jenis minuman bersoda.
Atlet juga beresiko terkena dehidrasi hipotonik (hiponatremia)  jika terlalu banyak minum air mineral pada waktu yang singkat. Dehidrasi hipotonik (hiponatremia) bisa menimpa atlet karena sodium dalam darah banyak yang keluar melalui keringat, dan semakin encer saat air mineral dalam jumlah banyak masuk ke dalam tubuhnya.
Beberapa gejala seseorang yang terkena hiponatremia adalah mual, muntah dan sakit kepala. Jika kondisi semakin parah, maka seseorang bisa mengalami pembengkakan otak yang menyebabkan kebingungan, kejang-kejang, koma, bahkan kematian.

Mengobati dehidrasi berat

Anak-anak dan orang dewasa yang mengalami dehidrasi berat harus segera ditangani oleh petugas medis di rumah sakit, dan kemungkinan, kondisi ini akan memerlukan rawat inap. Pasien bisa menerima gula, garam, dan cairan melalui infus. Infus merupakan cara yang cepat dan efektif dalam mengembalikan kadar cairan dan mineral tubuh ke tingkat yang normal.

Korea

From Wikipedia, the free encyclopedia
For the peninsula where the territory is situated, see Korean Peninsula.
For other uses, see Korea (disambiguation).
Korea
한국/韓國 (S. Korean)
조선/朝鮮 (N. Korean)
Flag of Korea (1882-1910).svg
Location of Korea
Capitals
and largest cities
South Korea Seoul (largest overall)
North Korea Pyongyang
Language(s)Korean
DemonymKorean
Sovereign states North Korea
 South Korea
Leaders
Vacant (PM Hwang Kyo-ahn as a temporarily acting president)
Kim Jong-un
Area
• Total
219,155 km2 (84,616 sq mi)[1][2]
• Water (%)
2.8
Population
• 2015 estimate
76,497,881
• Density
349.06/km2 (904.1/sq mi)
CurrencyNorth Korean won (₩)
South Korean won ()
Time zoneKST (UTC+9 (South Korea))
PYT (UTC+8:30 (North Korea)[3])
ISO 3166 codeKR/KP
Korea is a historical state in East Asia, since 1945 divided into two distinct sovereign statesNorth Korea (officially the "Democratic People's Republic of Korea") and South Korea (officially the "Republic of Korea"). Located on the Korean Peninsula, Korea is bordered by China to the northwest and Russia to the northeast. It is separated from Japan to the east by the Korea Strait and the Sea of Japan (East Sea}.
Korea emerged as a singular political entity after centuries of conflict among the Three Kingdoms of Korea, which were unified as Later Sillato the south and Balhae to the north. Later Silla divided into three separate states during the Later Three Kingdoms periodGoryeo, which had succeeded Goguryeo, defeated the two other states and united the Korean Peninsula. Around the same time, Balhae collapsed and its last crown prince fled south to Goryeo. Goryeo (also spelled as Koryŏ), whose name developed into the modern exonym "Korea", was a highly cultured state that created the world's first metal movable type in 1234.[4][5][6][7][8][9] However, multiple invasions by the Mongol Yuan Dynasty during the 13th century greatly weakened the nation, which eventually agreed to become a vassal state after decades of fighting. Following the Yuan Dynasty's collapse, severe political strife followed, and Goryeo eventually fell to a coup led by General Yi Seong-gye, who established Joseon in 1388.
The first 200 years of Joseon were marked by relative peace and saw the creation of the Korean alphabet by Sejong the Great in the 14th century and the increasing influence of Confucianism. During the later part of the dynasty, however, Korea's isolationist policy earned it the Western nickname of the "Hermit Kingdom". By the late 19th century, the country became the object of imperial design by the Empire of Japan. Despite attempts at modernization by the Korean Empire, in 1910 Korea was annexed by Japan and remained a part of Imperial Japan until the end of World War II in August 1945.
In 1945, the Soviet Union and the United States agreed on the surrender of Japanese forces in Korea in the aftermath of World War II, leaving Korea partitioned along the 38th parallel, with the North under Soviet occupation and the South under U.S. occupation. These circumstances soon became the basis for the division of Korea by the two superpowers, exacerbated by their incapability to agree on the terms of Korean independence. The Communist-inspired government in the North received backing from the Soviet Union in opposition to the pro-Western government in the South, leading to Korea's division into two political entities: North Korea (formally the Democratic People's Republic of Korea), and South Korea (formally the Republic of Korea). This eventually led to the Korean War in 1950, which ended in a stalemate without a formalized peace treaty in 1953, a factor that contributes to the high tensions which continue to divide the peninsula. To date, both countries continue to compete with each other as the sole legitimate government of all of Korea.